Ini adalah kisah yang di alami laros perantauan di malang dan semoga bisa di jadikan pelajaran bagi laros2 perantauan yang lain, amien!!
Laros yang satu ini (sebut saja si entut :red) sebenarnya sudah lama kerja di malang dan tentunya sudah mengenal lingkungan sekitarnya termasuk teman-teman kerjanya. Suatu hari dia akrab dengan salah satu user di tempatnya bekerja (sebut saja si cikrak :red), karena si cikrak ini enak di ajak bicara di tambah loyal ama temen dan suka sering bantu2 si entut/temen2nya kerja maka akrab pulalah si raden dengan seisi kantor yang wah itu (markas). Singkat cerita dengan semakin akrabnya si cikrak dengan para penghuni kantor di sertai dengan planing2 yang di ungkapkannya (wah bisa nambah income neh..) maka dengan di dasari rasa kepercayaan di angkatlah si cikrak menjadi salah satu penghuni kantor yang wah itu.
Seiring waktu berjalan ternyata planing yang telah di masak matang2 itu gosong :D, tapi itu tidak di jadikan suatu masalah besar oleh para penghuni markas. Hingga akhirnya satu persatu masalah timbul karenanya (sebagian besar masalah cewek :P), si entut dengan temen2 hanya bisa ngasih nasehat agar jangan sampe terulang karena masalah yang di timbulkannya bukan saja berakibat pada dirinya tetapi seisi markas juga terkena imbasnya, emang dasarnya si cikrak anaknya ngeyelan ya tetep aja ngeyel, sampe2 pernah di diemin oleh senior2 markas (ngrasa gak ya? ).
Suatu ketika ada seorang ibu tua (orang banyuwangi genteng) datang ke malang untuk mencari si cikrak, tiap ke malang ibu itu tidak ke markas akan tetapi ke warung pojok (tempat anak2 markas ngutang mie dan kopi :P), pada awalnya para penghuni markas tidak ada yang tahu ada masalah apa kok orang tua jauh-jauh dari banyuwangi ke malang hanya untuk mencari si cikrak. Akhirnya tercium juga, ternyata ibu itu minta tanggung jawab atas bayi yang di kandung putrinya di banyuwangi… karena si cikrak tak kunjung datang menemui si ibu itu (si cikrak lagi masang antena di luar) maka datanglah si ibu tua ke markas dan bertemulah dengan si entut kemudian di ceritakanlah semuanya pada si entut dengan mata berkaca2 (hik si entut jadi pengen ikut nangis.. ), intinya semua masalah harus selesai dengan jelas pada hari itu. Singkat cerita (lagi) si cikrak kawin dengan si putri di banyuwangi sana… (terjadi pada lebaran 2007 dan apesnya sang owner markas tempatnya makan dan tidur tidak di mintai ijin atau kata maaf )
Ada pepatah kuno “keledai yang bodoh sekalipun tidak akan terantuk batu yang sama sampe dua kali” dan apa yang terjadi pada si cikrak setelah kasus pertama reda?? sudah dapat di duga dia terantuk batu yang sama lagi, kali ini tidak seperti yang dulu2 tetapi ada keanehan pada diri sang cikrak ini, mendadak jadi pendiam, jarang makan, jarang ngomong dan kalau di tanya oleh si entut dan kawan2 “kenopo dirimuw?”, “loro untuw akuw..” duh kaciann. Hingga suatu malam “tut entut, bajumu mok londre pa ndak?”, “lha iya dunk mana tas nya?”, “tuhh..”, “OK!!” dengan mantabnya semua baju2 kotornya di masukkan ke dalam tas ransel yg gede itu.. seperti biasa kalau londre memang di jadikan satu semua, malam itu baju tiga anak markas masuk ransel (paling banyak bajunya entut), pulang dari londre si cikrak langsung tidur dan siangnya dia keluar dan tret tet tetttttttt……. si cikrak hilang tak kembali dalam beberapa hari, hingga keluarganya datang ke markas dan menjelaskan permasalahan yang sedang mereka hadapi… owallah pancet ae masalah e.
Lha terus si entut dan kawan2 ini sampai kapan ndak ganti baju??? selidik punya selidik ternyata ada unsur kesengajaan dalam kepergian cikrak bersama puluhan baju dan celana anak2 markas ini hik… kok tega???
“orang yang paling dapat di percaya adalah diri kita sendiri”
(kisah laroswati genteng yang hamil oleh si cikrak akan di kupas di lain waktu).